Skip to Content

Arsip Santapan Rohani

Selasa, Juli 27 2010

1 Yohanes 2:1-11

Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah- Nya. —1 Yohanes 5:3

Mazmur 43–45 • Kisah Para Rasul 27:27-44

Ketika Kofi kecil pulang dari Sekolah Minggu, ibunya bertanya tentang apa yang telah dipelajarinya pagi itu. Ia segera menjawab dengan suara lantang: “Lagi-lagi belajar tentang ketaatan!”

Meskipun saya bertahun-tahun lebih tua dari Kofi, saya setuju bahwa ketaatan kepada Allah adalah pelajaran yang harus kita pelajari berulang-ulang, walaupun terkadang kita merasa enggan untuk mempelajarinya.

Oswald Chambers menuliskan: “Tuhan tidak memberiku peraturan, tetapi menentukan standar-Nya secara jelas. Jika dasar hubunganku dengan-Nya adalah kasih, aku akan melakukan apa pun yang dikatakan-Nya . . . . Jika aku bimbang, itu karena aku mengasihi seseorang yang telah kutempatkan untuk bersaing dengan-Nya, yaitu diriku sendiri.”

Ketika kita taat, kita menunjukkan kepada Allah bahwa kita mengasihi-Nya dan lebih beriman kepada-Nya daripada kepada diri kita sendiri. Arthur W. Pink mengatakan bahwa kasih merupakan “suatu prinsip tindakan yang akan terekspresikan dengan sendirinya . . . melalui perbuatan-perbuatan untuk menyenangkan orang yang dikasihinya.” Menaati Allah berarti melepaskan apa yang kita inginkan dan melakukan apa yang dikehendaki Allah.

Allah membutuhkan ketaatan dari para pengikut-Nya, dan Yesus menganggap ini sebagai hal yang penting. Dia bertanya, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Luk. 6:46). Dan Dia mengajukan tantangan ini: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15). —CHK 

Ketika kita mengatakan bahwa kita mengikut Yesus Kristus 

Tetapi tanpa upaya untuk taat 

Ini mengungkapkan lemahnya iman kita bahwa Yesus 

Akan menuntun kita di setiap jalan kita. —Sper

Ketaatan kepada Allah adalah ungkapan kasih kita kepada-Nya.