Skip to Content

Arsip Santapan Rohani

Rabu, Maret 24 2010

Ayub 1:13-22

Seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. —Ayub 23:10

Yosua 16–18 ■ Lukas 2:1-24

Ketika saya mengajar di sekolah Alkitab di kota besar, terkadang saya menilai kertaskertas ujian di kedai makanan sambil menunggu datangnya kereta antar kota. Suatu hari, secara tidak sengaja saya menumpahkan secangkir besar kopi. Seluruh isinya membasahi tas saya yang sedang terbuka.
 
Kebanyakan di kota-kota besar, ada ruang tunggu yang sepi di stasiun. Namun, kopi yang menciprat ke mana-mana ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Seorang pria yang duduk di dekat saya berteriak, “Peristiwa terburuk!”
 
Komentar itu jelas berlebihan. Namun, setiap kita takut tentang pikiran-pikiran tertentu: kerugian finansial, kematian anak atau pasangan, kanker, atau kehilangan lainnya ataupun kesusahan.
 
Kitab Ayub adalah studi kasus tentang peristiwa terburuk. Namun, Ayub bersikap bijaksana ketika memikirkan tentang peran Allah yang mengujinya melalui semua peristiwa kehilangan yang dialaminya dan penyakit yang dideritanya: “Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayb. 23:10). Dari pernyataan yang bijak ini kita dapat mempelajari dua pelajaran berharga: Yang pertama adalah bahwa apa yang paling kita takutkan dapat digunakan untuk menguji karakter kita dan membuat kita menjadi lebih kuat. Yang kedua adalah bahwa Allah akan menyediakan kekuatan dan penghiburan bagi kita untuk dapat melaluinya.
 

Berpautlah kepada Allah. Dia telah berjanji menyertai kita, bahkan ketika kita mengalami peristiwa terburuk. —HDF

 


 

Allah sering mengirimiku sukacita melalui kepedihan,

Melalui kehilangan yang memahitkan, diperoleh sesuatu ilahi;

Namun, melalui semua itu—hari-hari yang gelap atau cerah—

Kutahu Bapaku selalu memimpin. —Conklin

Allah yang hidup dapat mengenyahkan rasa takut dari kehidupan.