Skip to Content

Arsip Santapan Rohani

Selasa, Maret 16 2010

Yohanes 3:22-30

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. —Yohanes 3:30

Ulangan 28–29 ■ Markus 14:54-72

Louis B. Neumiller dikenal karena sikapnya yang rendah hati, berintegritas, dan berkomitmen pada kualitas. Sebagai presiden Caterpillar Tractor Company dari tahun 1941-1954, ia memimpin pabrik peralatan pengeruk tanah untuk menghadapi semua tantangan Perang Dunia II dan memasuki ekspansi global. Di dalam buku In Their Time: The Greatest Business Leaders of the Twentieth Century (Di Zaman Mereka: Para Pemimpin Terhebat Abad ke-20), penulis Mayo dan Nohria menyebut kepimpinan Neumiller sebagai “kesuksesan tanpa pamer”. Mereka menuliskan bahwa tanda kebesarannya adalah Neumiller melepaskan jati dirinya dari perusahaan dan “menjadikan perusahaannya sebagai pahlawan, dan bukan dirinya.”
 
Kita melihat kualitas yang sama dari sikap tidak mementingkan diri sendiri ini di dalam diri Yohanes Pembaptis, sang pengkhotbah dinamis yang berulang kali menegaskan misinya untuk menyiapkan jalan bagi Mesias. Ketika para pengikut Yohanes resah karena Yesus membaptiskan orang dan banyak orang mengikuti-Nya, Yohanes menjawab: “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya . . . Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:28,30).
 
Sebagai pengikut Kristus, apakah kita meninggikan Dia atau malah mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri? Daripada kecewa ketika pelayanan kita tidak diperhatikan orang lain, kita seharusnya bahagia karena hak tertinggi kita adalah memuliakan-Nya. Tuhan adalah pahlawan sejati!
 

Memuliakan Allah adalah tanda kebesaran. —DCM


Sebuah Doa:

Tuhan, ajari kami supaya rendah hati. Kiranya kerinduan kami adalah

supaya Engkau dikenal, dimuliakan, dikasihi, dan ditinggikan dalam

setiap pikiran dan perbuatan—melebihi diri kami. Amin.

Orang Kristen yang hebat adalah orang yang makin mengecilkan dirinya agar Allah makin besar di hidupnya.